Wednesday, April 14, 2010

Singkatan dan Akronim

Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Sedangkan akronim, ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Khusus untuk pembentukan akronim, hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut.
(1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
(2) Akronim dibentuk dengn mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Pedoman pembentukan singkatan dan akronim diatur dalam Keputusan Mendikbud RI Nomor 0543a/U/198, tanggal 9 September 1987 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
1. Singkatan
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
Muh. Yamin
Suman Hs.
M.B.A. (master of business administration)
M.Sc. (master of science)
S.Pd. (Sarjana Pendidikan)
Bpk. (bapak)
Sdr. (saudara)
Kol. (Kolonel)
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
MPR (Majelis Perwakilan Rakyat)
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)
KTP (Kartu Tanda Penduduk)
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik.
Mislnya :
dsb. (dan sebagainya)
hlm. (halaman)
sda. (sama dengan atas)
d. Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf, setiap huruf diikuti titik.
Mislnya :
a.n. (atas nama)
d.a. (dengan alamat)
u.b. (untuk beliau)
u.p. (untuk perhatian)
e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
Cu (kuprum)
cm (sentimeter)
l (liter)
kg (kilogram)
Rp (rupiah)
2. Akronim
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata yang dapat ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
SIM (surat izin mengemudi)
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi)
Pramuka (Praja Muda Karana)
c. Akronim yang buka nama diri yang berupa gabungan, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu( pemilihan umum)
rapim (rapat pimpinan)
rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)

Sembilan pola Akronim dan Singkatan

1. Pola pertam
Singkatan ini terdiri atas huruf besar. Huruf besar yang dijadikan pola singkatan tersebut adalah huruf-huruf awal kata. Singkatan seperti ini adalah singkatan yang umum dipakai baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing. Pada singkatan jenis ini tidak diperlukan tanda titik, misalnya KKN (Kuliah Kerja Nyata), PT (Perusahaan Terbatas).

2. Pola Kedua
Pola kedua adalah akronim yang unsur-unsurnya terdiri atas huruf-huruf besar. Huruf-huruf besar yang membentuknya terdiri atas huruf-huruf awal kata yang membentuknya, misalnya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), LAN (Lembaga Administrasi Negara), ASI (Air Susu Ibu).

3. Pola ketiga
Pola ketiga adalah singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil. Singkatan tersebut berasal dari huruf-huruf awal kata. Dalam pembentukannya kita harus menggunakan tanda titik di antara huruf-huruf pembentuk singkatan itu, misalnya: a.n. (atas nama), u.b. (untuk beliau), u.p. (untuk perhatian).

4. Pola Keempat
Pola keempat adalah singkatan yang terdiri atas huruf–huruf kecil, yang dibentuk dari huruf awal kata yang membentuknya. Singkatan itu terdiri atas tiga huruf kecil dan dibubuhi tanda titik pada akhir singkatan, misalnya dll. (dan lain-lain), dsb. (dan sebagainya).

5. Pola Kelima
Pola kelima adalah singkatan yang berupa akronim dari nama badan atau nama diri. Singkatan ini terdiri atas huruf-huruf bagian kata yang membentuk singkatan itu, bukan hanya huruf awal kata. Singkatan ini dilafalkan sebagai sebuah kata, sehingga kita sebut akronim. Huruf awal akronim harus ditulis dengan huruf besar, misalnya: Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional).

6. Pola Keenam
Akronim pada pola keenam ini adalah akronim yang seluruhnya ditulis dengan huruf kecil, misalnya: tilang (bukti pelanggaran), rudal (peluru kendali).

7. Pola Ketujuh
Pola ketujuh adalah singkatan pada gelar kesarjanaan dan sapaan. Singkatan pada pola ketujuh ini merupakan singkatan yang khusus karena wujudnya dapat berupa singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata dan dapat pula berbentuk akronnim seperti pola kelima. Yang membedakannya adalah pada pola ketujuh ada penggunaan tanda baca titik. Singkatan pada pola ketujuh ini menggunakan tanda titik pada setiap huruf besar hasil singkatan, misalnya S.H. (Sarjana Hukum), M.Hum (Magister Humaniora).

8. Pola Kedelapan
Pola kedelapan adalah pola singkatan yang berhubungan dengan lambang kimia, ukuran, takaran, timbangan, dan besaran.Singkatan pada pola ini tidak dibenarkan untuk menggunakan tanda titik, misalnya Rp (rupiah), cm (sentimeter), kg (kilogram).

9. Pola Kesembilan
Singkatan yang termasuk dalam pola kesembilan ini disebut sebagai “bentuk singkat”. Sebagian besar kata-kata berasal dari bahasa asing. Dalam bentuk singkat ini tidak diperlukan tanda titik, misalnya lab (laboratorium), CafĂ© (cafetaria), memo (memorandum).

2. Pemakaian Singkatan dan Akronim pada Sarana Chatting di Internet dan SMS Singkatan pada media Chatting dan SMS hampir serupa. Di internet percakapan dilakukan secara global. Pada awalnya pemakai tidak mengetahui identitas seseorang secara pasti. Hal ini dimungkinkan karena pemakai dapat menggunakan berbagai identitas yang berbeda. Selain itu, pemakai tidak mengetahui siapa yang dituju sebelum lawan bicara kita memberi data pribadinya dengan jelas. Karena bersifat global, bahasa yang digunakan tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Inggris yang merupakan bahasa pergaulan internasional menjadi bahasa yang mau tidak mau harus dimengerti oleh pemakai dunia chatting. Oleh karena itu, pemakai sarana percakapan ini harus orang yang multibahasa. Apalagi, jika si pemakai mencoba untuk memasuki wilayah dengan bahasa yang berbeda. Cara memasuki kelompok bahasa yang berbeda ini akan mudah didapat jika masuk ke ruangan (room) yang disediakan untuk berinteraksi. Keanekaragam ruangan dapat dilihat dari wilayah, jenis keperluan (komputer dan internet, keagamaan, dll). Wilayah (regional) dapat dimulai dari negara yang dituju, contohnya ruangan dengan wilayah (regional) Indonesia. Indonesia terbagi atas beberapa ruangan, misalnya Jakarta Global Chat, Nusantara Global Chat, Bandung, Bali, Jogja. Tiap kota mempunyai channel untuk memudahkan memilih lokasi, tujuan, dan lawan bicaranya. Pengguna sarana chatting ini dengan mudah masuk ke negara lain untuk mengetahui bahasa, adat, dan budaya. Untuk masuk ke wilayah lain, pemakai harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

Dalam SMS pengguna sudah mengetahui siapa orang yang dituju, sehingga bahasa yang akan digunakan pun sudah dapat diketahui, termasuk dalam pemakaian ragam bahasa. Jika akan meng-SMS seseorang yang kedudukannya lebih tinggi, tentu saja ragam bahasa yang dipergunakan cenderung yang resmi dan santun. Berbeda apabila kita akan berkomunikasi SMS dengan teman sebaya, bahasa yang dipergunakan cenderung santai dan tidak resmi.

No comments:

Post a Comment