Thursday, January 28, 2010

Dampak Sinetron

. Para siswa 9a akan tahu bahwa jika menonton sinetron terus-menerus akan merusak moral kita karena sinetron zaman sekarang tidak berbobot, contoh sinetron yang tidak berbobot adalah sinetron yang menunjukkan kekayaan seseorang dan orang itu menjadi sombong.


Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Anak

Televisi sekarang telah menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah, televis telah berfungsi ganda, yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi keseharian anak-anak.


Ironisnya, di tengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan keluarga, dunia pertelevisian kini telah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik penontonnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said, dunia pertelevisian kini terancam oleh unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, dan pornografi (KR, 23/9-2003). Ketiga unsur tersebut hampir-hampir menjadi sajian rutin di sejumlah stasiun televisi serta dapat ditonton secara bebas bahkan oleh kalangan anak-anak. Padahal ketiga unsur itu mestinya dicegah agar tidak ditonton oleh anak-anak mengingat kondisi psikologi mereka yang belum mampu membedakan mana hal-hal yang positif dan mana hal-hal yang negatif dari sebuah tayangan TV.

Harus kita akui, belakangan ini berbagai tayangan televisi cenderung disajikan secara kurang selektif. Tayangan sinetron televisi, misalnya, kini didominasi oleh kisah-kisah percintaan orang dewasa, banyolan-banyolan konyol ala pelawak, intrik-intrik rumah tangga dari keluarga elit, cerita laga dan sejenisnya. Jika terus-terusan ditonton anak, hal ini akan membawa pengaruh kurang sehat bagi mereka. Sementara tayangan film yang khusus disajikan untuk anak-anak sering kali berisi adegan jorok dan kekerasan yang dapat merusak perkembangan jiwa. di sisi lain, aneka acara yang sifatnya menghibur anak-anak, seperti acara permainan, pentas lagu-lagu dan sejenisnya kurang memperoleh prioritas, atau hanya sedikit memperoleh jam tayang.

Masih minimnya komitmen televisi nasional dalam ikut mendidik anak-anak tampaknya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pemilik dan pengelola televisi. Orentasi pendidikan perlu menjadi semangat kerja para pemilik dan pengelola televisi dalam rangka membantu tugas orang tua, sekolah dan masyarakat dalam mengajarkan dan mendidik agama, budi pekerti, etos kerja, kedisiplinan, nilai-nilai kesopanan dan kreatifitas di kalangan anak-anak dan remaja.

Dalam situasi demikian tentu saja akan bersifat kontra produktif jika beberapa stasiun televisi menayangkan berbagai acara yang kurang memupuk upaya penanaman nilai agama dan budi pekerti. Untuk itu, sudah saatnya para pengelola televisi dituntut kesediaannya dalam memperbanyak volume acara yang membawakan pesan-pesan edukatif, positif. Sebaliknya mengurangi volume tayangan yang secara terselubung membawakan pesan-pesan negatif seperti sinetron yang bertemakan percintaan antara siswa dengan gurunya, intrik antar gadis dalam memperebutkan cowok keren, kebiasaan hura-hura, pesta, serta adegan-adegan kurang pantas lain yang membuat kalangan orang tua mengelus dada.

Kita akui, tayangan televisi seperti sinetron hanya sebatas rekaan sutradara yang tak mesti sejalan denga realitas pergaulan remaja kita sehari-hari. tetapi, karena TV telah menjadi media publik yang ditonton secara luas, termasuk kalangan anak-anak, maka akan memberi dampak kurang positif jika isinya bersifat vulgar. Di samping itu, judul sinetron yang selalu mengambil topik-topik tentang percintaan dan pacaran sedikit banyak akan mengajari anak-anak untuk berpacaran, tampil sexy, bergaya hidup trendy dan berorentasi yang penting happy. Walaupun tayangan ini belum tentu ditiru namun tetap akan mengontaminasi pikiran polosnya. Karena efek tayangan TV selama ini terbukti cukup ampuh bagi mereka. Simak saja, tingkah laku sebagian anak-anak remaja kita yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh film percintaan dan sejenisnya.

Bertolak dari sini, dapat digarisbawahi bahwa penayangan bertemakan remaja yang kental nuasa percintaannya serta mengambil background anak sekolah seperti berseragan putih biru untuk SLTP maupun berseragan putih abu-abu untu SLTA justru kurang memberikan pra-kondisi bagi tumbuhnya remaja yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, disiplin dan lain-lain. Hal inilah yang membut orang tua menjadi ngeri dan sangat menyayangkan pemutranan sinetron yang miskin kandungan nilainya seperti itu.

Analisa dan Solusi
Munculnya beberapa TV swasta baru, baik yang cakupannya lokal maupaun nasional. Sebenarnya disambut hangat oleh publik. Hal ini lantaran publik merasa memperoleh tambahan berbagai sajian acara baru yang lebih beragam. Booming TV swasta sanggat diharapkan akan memberikan pencerahan budaya sekaligus pencerdasan melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat, dengan sajian informasi yang tajam, maka akan mencerdaskan masyarakat dalam memahami berbagai persolan aktual baik di bidang ekonomi, pilitik, sosial, budaya, dan lain-lain. Disamping itu, TV juag akan memperluas wawasan masyarakat jika mereka aktif mengikuti acara dialog, debat, diskusi dan berbagai acara informatif-edukatif lain yang ditayangkan TV.

Namun tak dapat diingkari kehadiran beberapa TV swasta baru semakin mempertajam tingkat kompetisi bisnis pertelevisian di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, para awak TV swasta yang ada, baik pemain lama maupun pemain baru, harus memutar otak untuk memilih strategi jitu dalam menggait pemirsa. Logikanya, jika mereka berhasil merebut simpati penonton secara luas maka sejumlah iklan akan masuk.

Yang menjadi keprihatinan kita, ternyata sebagian TV swasta memilih strategi yang kurang tepat untuk menggaet penonton, diantaranya lewat eksploitasi anak-anak dan remaja secara berlebihan. Dan hal tersebut tampak pada tiga hal. Pertama, judul-judul sinetron selalu vulgar, menantang, dan mengandung unsur pornografi. Kedua, pemilihan aktris yang kebanyakan anak-anak dan remaja belia. Ketiga, jenis peran yang dilakoninya kurang berakar pada budaya pergaulan masyarakat Indonesia, dan bahkan sering kurang sesuai dengan tingkat kematangan psikologis dan umur pemerannya.

Agaknya, pemilihan aktris yang masih belia ini dimaksudkan untu menggaet penonton dari kalangan ABG atau remaja sebanyak-banyaknya. Disamping itu, pemilihan alur cerita yang memilih setting anak-anak sekolah tentunya diorientasikan untuk membidik segmen penonton yang duduk di SD kelas-kelas atas, SLTP, SLTA. Padahal adegan dalam sinetron bersetting sekolahan tersebut sebenarnya belum pantas dilakukan oleh mereka. Apa lagi apa bila kita berpijak pada nilai dan norma agama dan adat ketimuran, tentu peran dan adegan itu tidak layak diekspos di muka umum.

Agaknya, tanyangan TV terbukti cukup efektif dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku anak-anak lantaran media ini sekarang telah berfungsi sebagai rujukan dan wahana peniruan (what they see is what they do). Anak-anak sebagai salah satu konsumen media secara sadar atau tidak telah dicekoki budaya baru yang dikontruksi oleh pasar (market ideologi).

Untuk membantu anak agar dapat memanfaatkan tanyangan TV secara positif agaknya sangat membutuhkan peran optimal orang tua, terutama dalam mendampingi dan mengontrolnya. Orang tua harus sabar mendampingi anak-anaknya saat menonton TV. Hal ini perlu dilakukan orang tua agar anak tidak terpolusi oleh “Limbah budaya massa” yang terus mengalir lewat teknologi komunikasi yang hanya mempertontonkan hiburan sampah seperti hiburan opera sabun maupun sinetron akhir-akhir ini.

Orang tua perlu terus mananamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton TV. Yang justru mendapat perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anaknya, agar anak tersebut dapat terangsang untuk berfikir kreatif.

Hal tersebut sangat perlu dilakuakn karena mengingat kondisi psikologis anak yang belum matang, akan sulit bagi mereka untuk membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Orang tua perlu senantiasa mandampingi dan membimbingnya. Bentuk kehati-hatian dari para orang tua semenjak dini sangat diperlukan untuk menangkal efek samping (side effect). Yang kemungkinan timbul jika anak-anak dibebaskan menonton berbagai tanyangan TV sekehendaknya.

Kontrol orang tua terhadap tayangan TV juga dapat dilakukan secara langsung kepada stasiun TV yang menayangkannya. Caranya, orang tua dapat melayangkan protes kepada stasiun TV yang menayangkan sebuah acara yang dianggap bernilai negatif. Cara protes ini sekarang lebih mudah dilakukan karena telah disediakan salurannya. Hampir semua TV di Indonesia memiliki telepon, fax, email, bahkan SMS yang bisa dijangkau dari mana-mana. Mereka umumnya menerima layanan pelangan (custumer service) hampir 24 jam. Adaikan ada dua orang dari setiap propinsi di Indonesia yang rela menyempatkan diri ‘mengawasi’, atau bahkan melakukan protes terhadap setiap tayangan TV yang berbau ‘sesat’, maka dipastikan stasiun TV akan sangat selektif menampilkan tayangan akibat kewalahan menerima protes dari banyak permirsa. Jihad (memerangi) TV dengan memprotesnya, walau lewat telefon koin, lebih berguna demi satu abad masa depan anak-anak kita.

Bagi pemilik atau pengelola stasiun-stasiun TV itu sendiri, adalah bagaimana dapat memformat acara TV yang mampu melatih anak agar berfikir kreatif. Yaitu dengan lebih menambah acara-acara yang banyak mengandung unsur pendidikan, seperti, kuis anak-anak, sejarah, dan lain sebagainya. Stasiun TV hendaknya betul-betul memikirkan nasib perkembangan generasi bangsa ini. Hendaknya tidak bermuara pada meraup keuntungan yang sebayak-banyaknya, dengan tanpa memikirkan nasib konsumennya. Akan tetapi bagaimana sebuah stasiun TV itu dapat atau ikut andil dalam upaya mendidik generasi bangsa ini, dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat.

Kontrol terhadap tayanagn TV di masa depan agaknya akan bertambah optimal jika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetron mampu berjalan optimal. Kinerja kedua lembaga tersebut sanggat kiat tunggu, terutama dalam tiga hal. Pertama, mencegah unsur pornografi masuk dalam tanyangan sinetron. Kedua, mencegah unsur kekerasan berlebihan dalam sintron. Ketiga, mencegah pandangan dan pemikiran yang menyesatkan masuk dalam tayangan sinetron.
So, yang jelas dan pasti, faktor keterpengaruhan TV terhadap realitas pendidikan kita bukan hanya tugas pengelola TV, orang tua, atau KPI dan LSS, namun merupakan tangggung jawab yang harus dipikul oleh siapa saja yang masih membutuhkan pendidikan dan ilmu sebagai proses pembelajaran dan menaruh peduli terhadap perkembangan dan masa depan generasi bangsa ini.



Televisi adalah salah satu contoh media audio visual karena menyediakan fasilitas berupa gambar dan suara. Pada saat ini televisi bukan lagi merupakan kebutuhan sekunder melainkan sudah menjadi kebutuhan primer. Hampir disetiap rumah terdapat televisi, tentu saja hal ini mempengaruhi pola hidup pelajar Indonesia, karena setiap hari televisi menayangkan beragam acara baik dalam negeri maupun luar negeri. Penelitian mengumgkap bahwa media audio visual seperti televisi dapat mempengaruhi penonton misalnya menimbulkan efek kekerasan. Penulis merasa miris dengan tayangan-tayangan saat ini, tayangan yang disajikan banyak yang mengumbar kemewahan, kekerasan, mistik dan lain-lain. Sekarang televisi bukan lagi memjadi media penyampaian informasi atau pesan-pesan moral melainkan menjadi media yang dapat merusak perilaku masyarakat khususnya pelajar.

Acara Televisi yang Berdampak Negatif
Penelitian mengungkap bahwa media audio visual seperti televisi dapat mempengaruhi penonton misalnya menimbulkam efek kekerasan. Seorang peneliti bernama Dywer menyimpulkan sebagai media audio visual, televisi mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi kedalam jiwa manusia, yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu untuk membuat orang mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah tiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga hari kemudian (Dywer,1988)

Melihat hasil penelitian di atas dapat dibayangkan jika tayangan yang ditonton adalah tayangan yang seronok, mistik, dan kekerasan tanpa memperhatikan pesan-pesan moral, tanpa mempedulikan nilai-nilai agama dan tidak mengindahkan dampaknya untuk penonton. Para pengusaha, para sutradara, dan juga para model tidak pernah berfikir bahwa apa yang meraka lakukan itu telah memberikan sumbangan bagi kerusakan moral masyarakat khususnya kaum pelajar. Meraka hanya berfikir keuntungan dan keuntungan.
Baiklah, berikut ini adalah beberapa acara televisi yang disuka pelajar dan dampaknya terhadap perilaku pelajar.
Sinetron adalah salah-satu tayangan yang disuka pelajar, tapi gambaran yang ditampilkan jauh dari nilai-nilai pendidikan, dan peranan kita sebagai pelajar. Sekolah atau universitas yang semestinya santun dan ilmiah, telah tergtantikan dengan figur-figur yang centil, seksi, penuh intrik dan mengumbar perilaku yang tidak mendidik. Sedangkan figur siswa yang pandai digambarkan dengan gaya hidup yang ketinggalan zaman dan kuno, serta guru digambarkan dengan perilaku yang tidak pantas untuk diteladani. Menyedihkan.Dampak sinetron terhadap perilaku pelajar adalah pelajar lupa akan kewajiban utamanya yaitu belajar, berperilaku tidak sopan terhadap guru dan bergaya hidup mewah.
Selain sinetron reality show juga menjadi salah satu tayangan yang disuka pelajar, hampir semua stasiun televisi memiliki program ini diantaranya Global TV punya Singled Out yang lengkap dengan peri cintanya, Trans TV punya Date Express, dan RCTI punya Katakan Cinta. Tentu saja isi tayangan diatas tidak mengajarkan para pelajar bagaimana cara meraih prestasi disekolah, tapi bagaimana cara mencocok-cocokan pelajar dengan lawan jenisnya. Dampak dari reality show terhadap perilaku pelajar adalah pelajar melalaikan kewajiban utamanya dan sibuk dengan masalahnya dalam mencari lawan jenis.
Ajang pencarian bakat seperti AFI, Indonesia Idol, KDI, Cilapop dan lain-lain, merupakan tayangan menarik perhatian remaja. Para pelajar pun berlomba-lomba menjadi bintang mereka berharap menjadi kaya dan terkenal dengan cara instan. Dampaknya Universitas atau sekolah menjadi ajang yang tidak menarik para pelajar.
Salah satu acara yang disuka pelajar adalah seputar musik dan fashion, hampir semua stasiun televisi, memiliki acara seperti itu, tentu saja hal ini berdampak negatif bagi pelajar. Pelajar Indonesia mudah latah dengan tidak menolak budaya asing yang masuk ke Indonesia. Banyak trend barat yang ditiru oleh pelajar terutama yang negatif contohnya trend berpakaian Britney Spears, Christina Aguilerra, atau Avril Lavigne, yang khas dengan pakaian super mini. Mode berpakaian mereka masuk ke Indonesia bagai air bah yang cepat dan membludak
Acara olah raga dengan unsur kekerasan disukai oleh pelajar, salah satu contohnya adalah Smack Down. Tentu para pembaca telah mendengar bahkan melihat langsung dampak dari acara ini, beberapa siswa dinyatakan cedera dan meninggal.

Peran Pemerintah
Saat ini pemerintah belum dapat memaksimalkan perannya dalam mengontrol tayangan ditelevisi walaupun sekarang ini telah dibnetuk lembaga yagn berfungsi untuk mengontrol acara-acara televisi. Lembaga tersbut belum dapat bertindak tegas dalam memberikan sanksi kepada para pelaku.
Sebaiknya pemerintah mulai peduli dengan tayangan-tayangan di televisi, karena banyak dampak negatif, diantaranya merusak moral dan budaya bangsa serta menghancurkan generasi muda di Indonesia, pemerintah sebaiknya membatasi acara-acara yang tidak bermanfaat, memberikan sansi dan hukuman yang sesuai bagi yang melanggar serta menambah jam tayang acara yang berhubungan dengan dunia pendidikan sehingga para pelajar tertarik untuk berprestasi.

No comments:

Post a Comment